Oleh: Ali Mansur Monesa (Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kepemudaan PB SEMMI 2026-2029)
Tidak ada gerakan modern Indonesia yang lahir dari istana. Semua lahir dari kampung. Dari Laweyan, Solo, sebuah kampung batik yang miskin dan tertindas.
Pada 16 Oktober 1905, Haji Samanhudi, seorang pedagang batik Laweyan, mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI). Tujuan awalnya sederhana dan sangat ekonomi: melindungi pedagang pribumi dari dominasi pedagang Tionghoa dan monopoli Belanda.
Tapi sejarah tidak berhenti di ekonomi. Ketika seorang wartawan muda bernama Tirto Adhi Soerjo mendorong pengusaha batik untuk berserikat, dan ketika tiga orang propagandis SDI datang menemui seorang pemuda 30 tahun bernama Oemar Said Tjokroaminoto pada Mei 1912, maka dari Laweyan, gerakan itu meledak menjadi gerakan nasional pertama kali di indonesia
Tjokroaminoto menghapus kata “Dagang” pada 10 November 1912. Ia mengesahkan Anggaran Dasar baru di hadapan Notaris B. ter Kuile di Solo, yang disahkan Belanda pada 14 September 1912. SDI menjadi SI — Sarekat Islam dari sinilah.
Perubahan nama itu adalah perubahan ideologi. Dari organisasi pedagang, menjadi organisasi rakyat. Dari Laweyan untuk Laweyan, menjadi dari Laweyan untuk Hindia Belanda. Sari syarekat islam menjadi indonesia
Momentum Mengguncang Hindia Belanda saat
Keputusan Tjokro terbukti jenius.
Pada Agustus 1914, anggota SI baru 35.000 orang. Setahun kemudian, tahun 1915, anggotanya meledak menjadi 490.120 orang. Pada tahun 1919, SI memiliki 2,5 juta anggota dengan 700 cabang dari Sabang sampai Merauke. Tidak ada organisasi pribumi sebelumnya yang pernah sebesar ini.
Pemerintah Belanda panik. Residen Solo mengeluarkan Besluit pada 12 Agustus 1912 yang melarang SI menerima anggota baru dan mengadakan rapat. Tapi pelarangan itu justru membuat SI semakin dicintai rakyat.
Kenapa rakyat begitu mencintai SI? Karena bagi rakyat jelata, SI bukan partai. Hatta menyebut SI seperti sebuah penginapan — tempat berkumpulnya semua keluhan rakyat. Siapa yang tertindas, datang ke SI. Siapa yang lapar, datang ke SI. Siapa yang tanahnya dirampas, datang ke SI.
Dari rumah kontrakan sederhana di Gang Peneleh VII, Surabaya, Tjokroaminoto mendidik calon pemimpin bangsa: Soekarno, Semaoen, Kartosuwiryo, Agus Salim, Musso, Alimin. Semua pernah kos dan belajar di rumah Tjokro.
Tanpa Laweyan, tidak ada Peneleh. Tanpa Peneleh, tidak ada Indonesia.
Apa yang Hilang Hari Ini?
Hari ini, 121 tahun setelah Laweyan, kita merayakan Milad Syarikat Islam dengan seremonial. Tapi kita lupa substansinya.
Laweyan mengajarkan tiga hal yang kini hilang dari gerakan kita:
1. Ekonomi sebagai Panglima Perjuangan.
Laweyan bukan gerakan politik kosong. Laweyan adalah gerakan ekonomi. SDI lahir karena pedagang pribumi kalah bersaing. Mereka melawan dengan membangun solidaritas ekonomi: koperasi, simpan pinjam, perlindungan usaha.
Hari ini, gerakan mahasiswa dan gerakan Islam sibuk berebut jabatan politik, tapi lupa membangun kemandirian ekonomi umat. Kita demo soal tambang, tapi tidak pernah membangun koperasi tambang rakyat. Kita teriak soal impor, tapi tidak pernah membangun lumbung pangan.
Tjokro dalam _Islam dan Sosialisme_ (1924) menegaskan: Islam melarang penumpukan modal yang serakah dan mewajibkan negara menasionalisasi sumber-sumber alam penting untuk rakyat. Itu adalah ekonomi Laweyan.
2. Politik yang Membumi, Bukan Elitis.
SI tidak lahir dari diskusi di salon-salon Batavia. Ia lahir dari pasar batik Laweyan. Karena itu, politiknya adalah politik rakyat kecil.
Hari ini, politik kita terbalik. Politik lahir dari hotel bintang lima, dari lobi-lobi oligarki. Rakyat hanya menjadi penonton. Inilah yang membuat rakyat apatis.
PB SEMMI harus kembali ke Laweyan: membangun politik dari pasar, dari kampus, dari kontrakan mahasiswa, bukan dari istana.
3. Tauhid sebagai Sumber Keberanian.
Tjokroaminoto mengajarkan: _“Setinggi-tingginya ilmu, setinggi-tingginya iman, setinggi-tingginya akal.”_
Tauhid adalah keberanian untuk mengatakan bahwa hanya Allah yang patut ditakuti, bukan penguasa, bukan aparat, bukan oligarki. Tauhid Laweyan adalah Tauhid pembebasan.
Hari ini, banyak aktivis yang ilmunya tinggi, tapi imannya rendah. Berani di media sosial, tapi bungkam di depan kekuasaan.
Jalan Pulang ke Laweyan
Dari Laweyan menjadi gerakan nasional bukan sekadar judul sejarah. Itu adalah metode perjuangan.
Jika Haji Samanhudi dan Tjokroaminoto bisa mengubah sebuah perkumpulan pedagang batik kecil menjadi gerakan 2,5 juta orang yang mengguncang kolonialisme dunia, maka kita hari ini juga bisa.
Syaratnya satu: kembali ke rakyat.
PB SEMMI tidak boleh menjadi organisasi yang asyik di Jakarta. PB SEMMI harus turun ke Laweyan-Laweyan baru: kampung nelayan yang dirampas, petani yang gagal panen karena impor, pedagang kecil yang kalah oleh marketplace asing.
Di sanalah Indonesia masa depan yang mulia akan dibangun. Bukan di Senayan. Tapi di Laweyan.







